HIV – AIDS Tak Lagi Mematikan

Obat Gratis, Bidik Angka Kematian Turun Jadi 5 Persen

Dua dekade terakhir, HIV/AIDS jadi momok yang menghantui seluruh dunia. Penyakit yang menyerang sistem imun tubuh itu memang dikenal mematikan. Apalagi, belum ada obat yang ampuh untuk menanggulanginya. 

Namun, menurut dr Nasronudin SpPD, HIV/AIDS saat ini tidak perlu dianggap sebagai momok lagi. “AIDS bukan lagi penyakit mematikan. Masih ada peluang untuk menyembuhkannya,” tutur ketua Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga (Unair) itu saat ditemui di kantornya kemarin (20/10).

Nasronudin mengatakan, sudah ada obat yang bisa menekan HIV (virus penyebab AIDS), yakni ARV (obat antivirus). “Obat ini telah diberikan kepada pasien AIDS stadium IV yang dirawat di UPIPI (Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi, Red) RSU dr Soetomo,” tambah pria berkacamata itu.

Hasilnya, jumlah virus dalam darah pasien menurun tajam. Pada penderita AIDS stadium IV, jumlah virus bisa mencapai 100 ribu per cc darah. Setelah diberi obat tersebut selama enam bulan berturut-turut, jumlah virus bisa ditekan menjadi 50 per cc darah. Kalau diteruskan hingga dua tahun atau lebih, jumlah virus tinggal 5 per cc darah. “Setelah itu tidak bisa diturunkan lagi,” terang Nasronudin.

Namun, lanjut dia, ada cara lain untuk menekan jumlah virus yang tinggal sedikit tersebut. Yakni, memberikan gizi yang baik dan nutrisi yang mengandung multivitamin, multimineral, dantrace element. “Ini bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Jika ditambahi obat, sistem kerjanya seperti dua tangan yang dapat menekan lebih baik,” jelasnya.

Di RSU dr Soetomo, kata Nasronudin, angka kematian pasien AIDS terus menurun sejak ARV diberikan pada 2004. Saat itu angka kematian mencapai 100 persen. Setahun kemudian, angka kematian turun drastis menjadi 27,9 persen. Pada 2006, angka turun lagi menjadi 18,6 persen. Tahun lalu, penderita AIDS yang meninggal tinggal 16,7 persen. “Kami berusaha menekan angka kematian hingga 5 persen,” tutur Nasronudin.

Dia menegaskan, untuk bisa normal, penderita harus disiplin melakukan kontrol. Mereka juga wajib terus memenuhi kebutuhan gizi agar ketahanan tubuh terjaga. Sebab, ingat Nasronudin, perkembangan virus AIDS sangat cepat. “Sekali beranak, jumlahnya bisa 10 pangkat 10 per hari. Dengan rutin kontrol, kami bisa memantau jumlah virus dalam darah,” paparnya.

Saat ini, masih menurut Nasronudin, penderita AIDS juga tidak perlu kebingungan mengeluarkan biaya tinggi untuk mendapatkan ARV. Sebab, pemerintah memberikannya secara gratis. “Kalau beli bisa Rp 2 juta-Rp 3 juta per bulan,” ujarnya.

Yang perlu diingat, obat tersebut punya efek samping. Penderita AIDS bisa bermasalah dengan ginjal, liver, hemoglobin, dan mengalami erupsi kulit. “Perlunya kontrol juga untuk meminimalkan efek itu,” katanya. 

Meskipun tak lagi mematikan, kata Nasronudin, AIDS tetap tidak bisa dianggap remeh. Karena itu, dia berharap agar masyarakat tidak mencoba hal-hal yang bisa memicu penularan penyakit tersebut. “Potensi penularan masih sangat tinggi,” tegasnya. (dio/soe) 

http://jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=30805

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS Terbaru dari Pinginsehat.Info

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • RSS Top Movies

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • %d bloggers like this: